Banyak dibaca

Popular Posts

Google+

Member of

Bloggers' Shout Out!
Orange Blogger
www.kancutkeblenger.com
Warung Blogger
Ditulis oleh : Sophie Riswandono Jun 18, 2013

Nasehat indah, nasehat, indah, do'a, doa, renungan, motivasi, inspirasi, nasihat
Lihat Isi Nasihatnya
Nasihat itu Tanda Cinta

Bisa jadi, seseorang memberikan nasihat kepada kita tentang sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu atau bahkan kita sudah menjalankannya selama ini, pernah membacanya, atau mungkin kita juga pernah mendengarkannya. Hanya saja, apakah seharusnya kita mengatakan hal buruk/jelek terhadap si-pemberi nasihat. Kita berusaha menunjukan diri bahwa kita sudah tahu?

Tentu tidak, ingat bahwa nasihat tanda cinta. Meski kita sudah tahu, anggaplah itu untuk mengingatkan. Mungkin kita tidak lupa, tetapi saat kita mendengar secara berulang kali, maka akan lebih meresap ke dalam hati dan akan membentuk karakter dan kepribadian. Itu adalah sesuatu positif. Kenapa kita harus menolaknya? Kenapa harus menunjukan ego sendiri?

Terimalah nasihat meski kita sudah tahu, bahkan saat kita yang sebenarnya lebih pantas memberi nasihat. Bisa jadi, orang yang memberi nasihat tidak lebih tahu dibandingkan dengan kita. Mungkin dia masih awam, kurang ahli, kurang bijak dibandingkan dengan kita. Namun, lihatlah isi nasihatnya. Tidak perlu melihat orangnya, selama itu baik, bermanfaat untuk kita, maka sudah sepatutnya berterima kasih.

Tidak perlu mempertanyakan “siapa loe?”. Ini artinya kesombongan kita muncul, merasa diri lebih hebat dibandingkan pemberi nasihat, padahal bisa jadi dia tulus ingin membantu kita.

Bisa jadi kita menerima nasihat yang salah. Itu bisa saja, yang namanya orang tidak luput dari kesalahan. Atau bisa jadi nasihat itu salah bagi kita saja karena kondisi dan situasi yang berbeda. Namun lihatlah niat dibaliknya. Dia memberikan nasihat kepada kita karena peduli. Mungkin salah karena dia tidak tahu kondisi kita yang sebenarnya. Kita tidak perlu membantahnya, apalagi sambil marah atau menyerang dengan kata-kata yang tidak baik.

Tetaplah menerima nasihat itu. Tetaplah berterima kasih meski terlihat tidak berguna bagi kita. Bahkan, jika sebuah nasihat seolah akan menjerumuskan, tetaplah berterima kasih. Jika perlu, berikan penjelasan dengan cara yang baik bahwa nasihat tersebut tidak cocok dengan kita. Jika salah, jelaskan dengan cara yang baik pula. Jangan sampai cinta dan kepedulian orang malah kita balas dengan sesuatu yang tidak mengenakan.

Pastinya, kita akan menerima nasihat yang tidak lengkap. Tentu saja, karena tidak mungkin semuanya dibahas dalam satu pembicaraan. Kita akan selalu bisa melihat ada kekurangan dalam nasihat. Jika kita meneirma nasihat tentang menuntut ilmu, mungkin kita melihat ada yang kurang. Bisa jadi kita mengatakan:

“Percuma menuntut ilmu, jika tidak diamalkan.”

Apa yang dikatakan itu benar. Dimana masalahnya? Pertama, kita mengalihkan fokus. Mungkin pemberi nasihat itu sedang fokus tentang menuntut ilmu. Sama sekali tidak ada perkataan yang melarang amal atau tidak perlu diamalkan. Dia hanya sedang membahas ilmu. Saat kita mengatakan hal itu, sebenarnya itu muncul dari ego, ingin menunjukan diri lebih tahu.

Kalau pun, nasihat itu dilanjutkan. Misalnya harus beramal, maka kita bisa menjawab lagi :

“Percuma beramal jika tidak ikhlas.”

Sekali lagi, isi dari perkataan itu tidak salah. Yang salah adalah sikapnya dalam menerima nasihat. Nasihat itu tidak pernah lengkap. Tidak mungkin bisa membahas seluruh Al Quran hanya dalam satu buku, satu artikel, apalagi satu status di halaman facebook. Jika kita hanya melihat apa yang kurang, maka kita hanya fokus pada kekurangan itu. Sementara fokus kita dalam menerima akan hilang.

Kedua, jika kita terus melihat kekurangan dan menunjukan kekurangan tersebut, itu artinya kita hanya mementingkan ego kita. Nasihat tidak akan berarti sama sekali jika kita fokus mengurus ego, jika ingin dilihat lebih tahu, lebih bijak, dan lebih pintar.

Orang sedang membahas masalah amal bukan berarti tidak tahu tentang ikhlas, hanya saja dia sedang fokus membahas amal, saat itu. Mungkin waktu yang lain, baik yang sudah lalu maupun yang akan datang, dia sudah atau akan membahas tentang ikhlas. Mungkin karena kondisi kita saat ini memang kurang amal. Meski kita tahu, amal itu harus ikhlas, tetapi jika amalnya tidak ada?

Satu lagi kasus, kadang ada orang yang sok pintar, dia menasihati karena dengan maksud merendahkan kita atau menganggap kita tidak tahu. Bisa jadi dia memberi nasihat kepada semua orang karena dia ingin dianggap hebat. Mungkin ada. Yang perlu kita perhatikan adalah :
  • Tidak semua orang yang menasihati kita bermaksud merendahkan. Jadi jangan selalu memunculkan ego atau melawan saat ada seseorang yang menasihati, karena bisa jadi dia orangnya tulus. Meski isinya kita sudah tahu, tetaplah berbaik sangka dan berterima kasih.
  • Jika isinya baik, kenapa tidak? Mungkin, sekali lagi mungkin, seseorang bermaksud merendahkan kita, namun jika isinya itu baik, terima saja. Kita tidak akan pernah menjadi rendah karena menerima nasihat yang baik. Fokuslah pada diri sendiri.
  • Tersenyum saja, ya berikan dia yang memerikan komentar tersebut dengan sebuah senyuman tulus, tanpa harus susah berkata.
Pada zaman sekarang, zamannya informasi, kita akan semakin mudah menerima nasihat. Bisa melalui media, website, facebook, twitter, dan SMS. Banyak sekali caranya. Jika kita menyikapinya dengan baik, maka nasihat-nasihat yang datang akan mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa komentarnya ya? :)

[ 4 comments... baca di bawah atau tambahkan komentar ]

  1. Jika kita menyikapinya dengan baik, maka nasihat-nasihat yang datang akan mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik *SEPATU > Sepakat dan setuju :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Istilahnya super mba, SEPATU hehe :D
      Makasi udh mampir mba ^^

      Delete

Teman Blogger yang baik adalah mereka yang meninggalkan goresan komentar walaupun hanya sedikit ^^

- Copyright © 2013 Kolong Langit - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited By Sophie Riswandono -