Banyak dibaca

Popular Posts

Google+

Member of

Bloggers' Shout Out!
Orange Blogger
www.kancutkeblenger.com
Warung Blogger
Ditulis oleh : Sophie Riswandono May 16, 2013

Paras Cantik yang Berbeda Nasib

Beberapa malam lalu dapat cerita dari seorang teman yang habis pulan dari jalan-jalan di seputaran ibu Kota Jakarta. Teman saya menceritakan tentang dunia malam yang ada dan dia temui di Jakarta. Ya, walaupun sama-sama tinggal satu kosan dan satu kamar pada beberapa malam yang lalu kebetulan saya pulang ke kampung halaman Bandar Lampung, jadi hanya dapat cerita darinya.


Bermula saat teman sekamar saya diajak oleh temannya yang juga berasal dari Lampung berjalan-jalan di bawah terangnya lampu malam ibu kota, dia menjelaskan di beberapa letak di kota Jakarta menjadi tempat 'parkir'nya para kupu-kupu malam. Dia melintas dan melihat banyak wanita dengan pakaian minim berdiri di pinggir jalan sambail sesekali melambaikan tangannya.

Mungkin untuk penduduk yang berada di sekitar situ atau mungkin yang sering lalu-lalang melewati tempat itu sudah tidak asing lagi dengan adanya wanita malam itu. Mungkin bukan hanya di Jakarta, bahkan di kota kelahiranku Bandar Lampung, hal serupa masih banyak hanya saja untuk kurun 2 tahun belakangan ini jumlah wanita yang menjajakan diri mereka di pinggir jalan sudah lebih ditertibkan.

Sebenarnya miris melihat kejadian seperti itu, iya, terlebih dengan paras cantik yang mereka punya. Bermodal fisik yang aduhai mereka rela (maaf) menjual diri mereka dengan alasan keperluan ekonomi. Sangat disayangkan sejujurnya, karena mungkin di luar kerjaan seperti itu bisa saja bukan mereka mencari pekerjaan yang lebih halal daripada itu. ya, walaupun dengan penghasilan yang tidak seberapa, tetapi harga diri tetap terjaga.

Kasus seperti ini selalu menjadi pro-dan-kontra di masyarakat. Ada beberapa berpendapat jika hal seperti itu haram adanya, JELAS! tapi di sisi lain jangan lupakan juga bahwa manusia membutuhkan sesuatu untuk memuaskan hasrat mereka, tidak hanya nafsu namun juga kebutuhan materi.

Tapi, sampai kapan kebutuhan ekonomi selalu menjadi alasan utama? Bukankah harta tak di bawa mati?

Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, saya pernah mendapatkan tugas untuk mengumpulkan data dari riset mata pelajaran Antropologi yang saya lakukan ke sebuah lokalisasi di daerah Lampung. itu pengalaman pertama saya masuk ke daerah lokalisasi.

Sejenak imajinasi melayang membayangkan tempat lokalisasi tersebut, apakah benar seperti halnya yang ada di layar kaca? Dengan segala hingar-bingar hiburannya? Saat itu kira-kira sekitar jam 3 sore, saya berdua teman saya menuju ke lokalisasi untuk mengumpulkan data sambil sesekali berhenti untuk bertanya kepada orang-orang yang tahu akan tempat itu.

Setelah sampai, segala imajinasi yang sebelumnya saya bayangkan sirna sudah. Ternyata lokalisasi tersebut jauh dari kata keramaian. Dengan penuh rasa kebingungan dan penasaran akhirnya saya memberanikan diri untuk mengetuk salah satu rumah di tempat itu.

Terlihat samar dari dalam ada orang yang beranjak keluar menyambut kedatangan saya dan teman saya. Kemudian dengan sedikit basa-basi saya memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan kami namun ditolak, begitu seterusnya hingga. Mereka mengira bahwa maksud dan tujuan saya datang hanyalah untuk memanfaatkan mereka dan UUD (ujung-ujungnya duit).

Mulai sedikit putus asa akhirnya saya menemukan satu rumah prostitusi yang lumayan ramah pemiliknya. mereka mempersilahkan saya masuk dan memberikan soft drink yang pastinya GRATIS! Rumah tersebut berbentuk lorong dengan banyak ruang sekat kamar. Saat memasuki rumahnya saya sempat tidak sengaja melihat sebuah kamar yang terbuka dan saya sempat terkejut karena di dalamnya ternyata merupakan tempat 'eksekusi'. Dimana ada beberapa sosok wanita yang sedang tidur dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja.

Saat saya berada di ruang tamu, saya kembali menjelaskan tentang maksud kedatangan. Sang pemilik dengan antusias mendengarkan dan malah yang diluar dugaan, dia malah membantu mengumpulkan data riset saya! WOW! Terharu rasanya waktu itu, karena tugas yang harusnya saya selesaikan dalam waktu 2-3 minggu, ini dapat saya selesaikan hanya dalam hitungan 3 hari saja.

Tak disangka ada orang yang masih berbaik hati membantu. Matahari semakin meredup, di kisaran pukul 6 sore saya pulang dari lokalisasi tak lupa saya meminta kontak dari orang yang membantu saya itu, sebut saja Pak Marno.

2 hari berselang dari kunjungan pertama saya kembali menyambangi tempat lokalisasi lagi untuk memastikan data-data yang saya dapatkan benar-benar valid atau tidak. Hanya saja pada saat keberangkatan kedua, saya berangkat agak malam karena di sore harinya saya latihan futsal.

Saya terkejut saat mendapati bahwa suasana kedua kedatangan saya berbeda jauh dengan yang pertama! Kali ini benar-benar hingar-bingar! Musik keras ala disko saling bersautan! Disekeliling jalan yang saya lewati juga sudah banyak wanita cantik dengan pakaian minim mereka.

Kembali saya ke rumah Pak Marno, saya tanyakan perbedaan saat kunjungan saya yang pertama dan kunjungan kedua, kenapa begitu mecolok sekali. barulah saya mengerti. Itulah dunia malam, saat seharusnya bagi sebagian kita beristirahat, sebagian lainnya baru saja memulai kehidupan mereka. Teruntuk paras cantik yang berbeda nasib, semoga kehidupan kalian baik-baik saja.

Tak selalu yang berkilau itu indah, dan tak selamanya juga bukan paras cantik itu terus menerus dipunya bukan?

[ 12 comments... baca di bawah atau tambahkan komentar ]

  1. Sophie, komen blognya ga bisa buat url lain gitu?

    ReplyDelete
  2. Terkadang semut didepan hidung tidak dapat dilihat oleh mata kita ya Mba, dan semua itu memiliki ambang batas waktunya. Semoga semua bisa berubah dalam sentuhan kasih sayang Nya.

    Salam wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... :)

      Terima kasih udh mampir dan sempetin berkomentar :D

      Delete
  3. smoga nasib mereka bisa berubah.. sesuangguhnya jk ada kemauan pastilah ada jalan untuk mencari penghasilan halal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Insya Allah ada jalan selagi manusia sendiri mau berubah...

      Delete
  4. Sesuatu hal yang orang lain lakukan pasti ada alasannya, sayangnya, terkadang kita tidak bisa tahu alasan tersebut, ada yang bagus di mata Tuhan tapi jelek di mata manusia ada juga sebaliknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup... selalu ada alesan dan selalu menjadi pro-dan-kontra...
      rasanya kaya nano-nano kalo disebutin :)

      Delete
  5. Terkadang, inilah hidup yang memang harus dihadapi mas.. walaupun berat dan denga segala pertimbangan bahkan (maaf) mengeksekusi tubuh untuk sekedar nafsu. Mau dibilang protes dan bagaimana peradilan kita pada Tuhan nanti, entahlah.. Perwujudan di dunia ini tak bisa diterka bagaimana endingnya nanti saat hisab.. :(

    Riset yang great,, saya juga pernah mendapatkan tugas yg sama.. hehe memang berbeda y saat malam dan siang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup beda banget, siang sepi dan malamnya rame...
      Bener-bener dunia malam...

      Kehidupan, gak ada yang tahu apa yang bakal terjadi, kalo kata temen saya, yang penting melangkahlah dengan tujuan yg jelas :D

      Delete
  6. Kalau sekarang bukan ekonomi lagi melainkan untuk memenuhi gaya hidup mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, kalo yang saya lihat dan dengar dari pemaparan teman-teman yang lain juga seperti itu mas. Terlebih bagi mereka yang berada di kota-kota besar :)

      Delete

Teman Blogger yang baik adalah mereka yang meninggalkan goresan komentar walaupun hanya sedikit ^^

- Copyright © 2013 Kolong Langit - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited By Sophie Riswandono -