Banyak dibaca

Popular Posts

Google+

Member of

Bloggers' Shout Out!
Orange Blogger
www.kancutkeblenger.com
Warung Blogger
Ditulis oleh : Sophie Riswandono Jun 3, 2013

Kiluan, The Hidden Paradise!
Kiluan punya cerita

Ngaku Sanak Lampung tapi belum pernah ke Kiluan itu sesuatu (ups). Harusnya sudah pada tahu ya, apalagi beberapa waktu lalu Kiluan jua didokumentasikan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia. Dan... Gak hanya satu televsisi swasta saja. Maaf tidak ada maksud untuk menyombongkan Kiluan, hanya saja saya merasa bangga sekaligus senang rasanya bahwa di Lampung, kota kelahiranku masih terdapat eko-wisata semacam ini juga menjadi salah satu tempat indah dan eksotik di negeri ini. Jadi teringat pertama kali saat ke Kiluan, waktu itu dalam rangka peresmian Backpacker Community Lampung yang jika disingkat namanya menjadi seperti artis ternama kita BCL.



Dokumentasi video adalah milik Danan Wahyu dan Hery Jarkovi

Setiap kali ke Kiluan selalu saja menyimpan dan memberikan kisah tersendiri. Saat pertama kali ke sana masih ingat waktu itu ada bule dari Jerman yang ikut dalam rombongan, kebetulan saya yang membonceng. Cukup senang juga bisa membonceng seorang pelancong karena selama di perjalanan selalu menjadi pusat tontonan orang layaknya topeng monyet, haduuuh... Walaupun senang rasanya bisa membonceng bule bukan berarti tanpa masalah, ya selama perjalanan akhirnya saya hanya fokus memacu motor tanpa bisa berkomunikasi dengan dia. Maklumlah, bahasa Inggris saya yang tingkat RT belum bisa menandingi bahasa Inggrisnya yang sudah lintas negara.


Waktu itu kondisi jalan ke Kiluan belum seperti sekarang, masih banyak bebatuan dan jalanan yang hancur, tapi disitulah saya bersemangat memacu motor saya, ada kenikmatan tersendiri saat memacu motor dalam kondisi jalan yang bergelombang. Sampai tiba beberapa kilo meter lagi menjelang tempat tujuan, di daerah kampung Bali, para boncenger mesti turun sejenak dari motor karena motor harus di dorong melewati sungai karena jembatan penghubung ke tepi yang lain sedang dalam kondisi perbaikan. Tiba-tiba wanita bule tersebut coba menegur sapa saya dengan bahasa Indonesianya yang tertatih-tatih ala tingkat padepokan.

"Sehat?" Tegurnya.

"What?", jawabku bingung

"Kamu... Sehat?"

"Whaaat?!"

"Iya.. Apa kamu sehat?"

"Whaaat?"

*terus sampai keesokan paginya*

Oke abaikan percakapan di atas... Karena melihat percakapan alot antara saya dan wanita bule teman 1 paket saya itu untungnya salah seorang teman memberitahukan saya bahwa si-bule itu bermaksud menanyakan kondisiku, masih kuat atau tidak. Baru dari situ aku paham akan maksud kata-katanya tersebut.

"Ooooo, gitu toh (sambil mengangguk-angguk) coba miss daritadi bilang kalo maksudnya nanyain kondisi saya, apa miss udah yakin saya pilihan hati miss?"

Lha, dia malah tersenyum kepada saya sambil berkata,

"You're funny"

OMG! Mungkin saat saya bilang begitu yang terlintas di dalam imajinasinya saya adalah topeng monyet. Entah dia mengerti akan perkataan saya atau tidak. namun perjalanan akhirnya kami lanjutkan kembali. Sesaat lagi-lagi para boncenger harus rela turun karena tanjakan menukik dan penuh batu, saya dan rekan-rekan yang membawa motorpun dituntut harus hati-hati. Dengan bingung tapi tetap sopan saya bilang ke miss bule itu untuk turun dari motor sejenak.

"Miss you can turun sebentar yes.. I want to gas pull motor ini ke atas sana. Soalnya jalannya again-again ekstrim. You understand yes dengan omongan saya barusan?"

Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya seperti boneka gedek yang biasa dipasanga di dashboard mobil. Entah bahasa planet mana yang caya ucapkan waktu itu, cuma sepertinya miss bule itu (dengan terpaksa) mengerti maksud ucapan saya. Setelah melewati tanjakan yang membuat rombongan sedikit letih, akhirnya sekitar 10-15 menit dari tempat kejadian perkara terakhir para rombonganpun tiba di tempat tujuan.

suasana obrolan malam di tepi pantai dengan miss bule
Kami menginap di cottage yang telah dipesan sebelumnya. Biaya menginap semalam di sinipun relatif murah, hanya dengan merogoh kocek Rp. 150.000,00. Saran saya supaya dapat meminimalisir pengeluaran untuk biaya sewa cottage teman-teman minimal berangkat 8 sampai dengan 10 orang. Cottagenya sendiri cukup besar, bisa menampung hingga 50 orang. Iya 50 orang dalam kondisi abnormal, jika dalam kondisi normal dan ingin bersantai cukuplah dengan 10 sampai 15 orang.

Perjalanan selama 3 jam yang kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke Teluk Kiluan akhirnya terbayar dengan hamparan pemandangan alam yang indah, mulai dariperjalanan hingga ke tujuan. Benar-benar menakjubkan! Belum lagi penduduk-penduduk lokal yang ramah, walaupun ada beberapa etnis yang berbeda yang tinggal di tempat itu tetapi mereka hidup secara rukun dan damai menjadi nilai positif tersendiri.

Begitu sampai di sana para rombongan yang sebelumnya telah ditentukan cottage mana saja yang akan ditempati langsung re-pack barang-barang mereka. Selepas beristirahat kami semua menikmati nikmatnya mie instan yang dibuat secara abtsrak oleh juru masak dadakan yang dipilih secara acak.

lagi pada kenalan satu dan laennya

makan malam bersama

it's coffee time!!! (insert : Alm Fityan Firdaus)

menikmati hangatnya api unggun

Saat menanti senja dan matahari terbenam di sini adalah salah satu momen yang hmmm...... sukar untuk dilupakan. Sambil duduk menikmati kopi dan teh hangat di pinggir dermaga saya dan teman-teman menikmati indahnya Kiluan di sore hari ada yang berenang ada juga yang berkenalan satu dan lainnya, karena kebetulan rombongan waktu itu berkisar sekitar 40 orang yang berasal dari beberapa kota. Dengan kibasan angin yang sepoi-sepoi menerpa wajah kami menikmati waktu sore melihat sunset yang benar-benar spektakuler.

Malam harinya tentu saja malam keakraban, saat badan mulai rileks, selesai makan malam bersama kami bercengkrama dan saling mengenal satu dan lainnya, termasuk ngobrol unik lagi dengan miss bule. yang mengejutkan dari dia adalah bahwa ternyata dia fasih berbahasa Jawa ketimbang Bahasa Indonesia. Hal tersebut baru diketahui saat salah seorang teman kami ingin berfoto bersama lalu dia bilang

"wani piro?"

Alamak! Sontak kami semua terkejut, setelah kami coba tanya ternyata miss bule ini cukup lama tinggal di Jogja. Ealaaaah... lha weruh ngono yo ket mangkat mendhing ta' je'i koe ngomong Boso Jowo wae nduk.

To be continued...

[ 6 comments... baca di bawah atau tambahkan komentar ]

  1. artikelnya komplit plit, cuman fotonya cilik2, hehehe apa aku yang liatnya pas malam hari, so emang kudu kriyip2 ben jelas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Mbak Tanty :D
      fotonya emg tak re-size takut makan bandwith..
      loading page biar gak berat2 amit :D

      Delete
  2. Replies
    1. duh rada lupa, tahun piro yo? Kisaran 2011an kalo nda salah :D

      Delete
  3. fotonya sayang banget nggak jelas soalnya nggak seimbang, terlalu kurus -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto yang mana yg gak seimbang mba?
      Kalo orangnya emang kurus2 :D

      Delete

Teman Blogger yang baik adalah mereka yang meninggalkan goresan komentar walaupun hanya sedikit ^^

- Copyright © 2013 Kolong Langit - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited By Sophie Riswandono -